Home Edukasi Jurnalis Harus Manfaatkan AI dalam Menulis Berita

Jurnalis Harus Manfaatkan AI dalam Menulis Berita

Tips CEO Drone Emprit Ismail Fahmi pada kajian subuh UBNNEWSROOM

10
0
SHARE
Jurnalis Harus Manfaatkan AI dalam Menulis Berita

AI telah membuat produksi konten menjadi lebih murah, cepat, dan masif. Di saat yang sama, teknologi tersebut juga memudahkan penyebaran hoaks, propaganda, dan konten manipulatif seperti deepfake yang semakin sulit dibedakan dari kenyataan.

 

Jakarta, EDUKASINEWS.COM-Founder Drone Emprit DR. Ismail Fahmi berbagi ilmu dengan puluhan jurnalis  Muslim yang bergabung dalam  forum ”Kajian Jumat Subuh” di  UBN Newsroom, AQL Center, Tebet, Jakarta Selatan,  Jumat 12 Maret 2026.

Dalam diskusi hangat bertajuk ”Wartawan Muslim dan Jurnalis AI”, dipandu langsung oleh Ustad Bachtiar Nasir,  Ismail mengatakan, perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) sering kali memunculkan kekhawatiran di kalangan pekerja media. Kemampuan AI menulis artikel dalam hitungan detik, merangkum dokumen panjang, hingga membuat gambar dan video realistis membuat sebagian orang bertanya, apakah profesi jurnalis akan tergantikan?

Bagi Ismail, kekhawatiran tersebut keliru. Ia menegaskan bahwa kehadiran AI justru membuat peran jurnalis semakin penting.

"Ketika semua orang bisa membuat berita, jurnalisme harus naik kelas menjadi penjaga makna," ujarnya.

Ismail menjelaskan bahwa tantangan terbesar saat ini bukan lagi minimnya informasi, melainkan melimpahnya informasi yang beredar tanpa kendali.

AI telah membuat produksi konten menjadi lebih murah, cepat, dan masif. Di saat yang sama, teknologi tersebut juga memudahkan penyebaran hoaks, propaganda, dan konten manipulatif seperti deepfake yang semakin sulit dibedakan dari kenyataan.

Akibatnya, masyarakat membutuhkan pihak yang mampu memisahkan fakta dari kebisingan informasi.

"Publik membutuhkan kompas untuk membedakan mana fakta, mana noise, dan mana fitnah," katanya.

Hanya Alat

Dalam perspektif Islam, Ismail menekankan bahwa teknologi bukanlah sesuatu yang harus ditakuti ataupun disembah. AI hanyalah alat yang nilai penggunaannya ditentukan oleh manusia.

Ia mengingatkan bahwa AI bukan Tuhan, bukan nabi, dan bukan mufti yang dapat dijadikan rujukan mutlak. Karena itu, penggunaan teknologi harus selalu dibimbing oleh prinsip-prinsip moral seperti amanah, tabayyun, keadilan, maslahat, dan rahmah.

Menurut Fahmi, pertanyaan yang relevan saat ini bukan lagi "Bolehkah menggunakan AI?", melainkan "Apakah AI digunakan untuk membawa maslahat atau justru mudarat?"

Tidak Hilang

Kemampuan AI memang dapat mengambil alih berbagai pekerjaan teknis yang sebelumnya dilakukan jurnalis, mulai dari menyusun draf berita hingga merangkum data.

Namun AI belum mampu memikul tanggung jawab moral yang menjadi inti profesi jurnalistik.

Jika dahulu jurnalis lebih banyak disibukkan dengan mencari bahan, mengetik cepat, dan mengejar tenggat waktu, kini fokus pekerjaan bergeser pada verifikasi informasi, penyajian konteks, serta menjaga keadilan narasi.

Ke depan, jurnalis akan berperan sebagai pengelola teknologi yang mampu memanfaatkan AI tanpa kehilangan nurani dan tanggung jawab sosial.

Lima Prinsip

Dalam memanfaatkan AI, Ismail menawar lima prinsip jurnalisme berbasis AI yang sangat penting dimiliki oleh wartawan Muslim. Pertama tabayyun, yakni melakukan verifikasi sebelum menyebarkan informasi.

Kedua, amanah, yaitu menjaga kepercayaan publik dengan tidak memanipulasi data maupun sumber informasi. Ketiga, adil, memastikan semua pihak mendapatkan perlakuan yang proporsional dalam pemberitaan.Keempat, maslahat, mempertimbangkan dampak sosial dari setiap informasi yang dipublikasikan. Dan yang kelima, ihsan, yakni bekerja secara profesional, teliti, dan beradab.

Menurutnya, nilai-nilai tersebut harus menjadi "redaksi batin" sebelum prosedur teknis diterapkan di ruang redaksi digital.

AI, tambah Ismail,  dapat menghasilkan jawaban yang terdengar meyakinkan tetapi sebenarnya salah, fenomena ini dikenal sebagai halusinasi AI.

Selain itu, terdapat risiko bias algoritma, penyebaran deepfake, praktik clickbait yang semakin agresif, kebocoran data pribadi, hingga ketergantungan berlebihan yang membuat manusia kehilangan kemampuan berpikir kritis.

"AI bukan hanya alat produktivitas, tetapi juga bisa menjadi mesin produksi disinformasi," kata Ismail.

Untuk menghadapi tantangan tersebut, Ismail memperkenalkan konsep tabayyun empat lapis.

Pertama, memeriksa sumber informasi, termasuk rekam jejak dan kepentingan pihak yang menyampaikan informasi. Kedua, memverifikasi isi konten, seperti data, kutipan, tanggal, dan fakta yang diklaim. Ketiga, memahami konteks yang melatarbelakangi sebuah informasi. Keempat, melakukan pemeriksaan teknis melalui metadata, pencarian gambar balik (reverse image search), hingga deteksi deepfake.

"Jangan berhenti pada kesan bahwa sesuatu terlihat benar. Tabayyun menuntut pembuktian," tegasnya.

Di era AI, kompetensi jurnalis tidak lagi cukup hanya menguasai teknik menulis berita. Jurnalis masa depan harus memahami cara berinteraksi dengan AI, membaca data, melakukan verifikasi digital, memahami etika narasi, serta mampu mengaudit penggunaan teknologi.

Namun di atas semua itu, kemampuan yang paling penting adalah menjaga niat, amanah, dan kedisiplinan moral.

"Jangan takut pada AI, tetapi jangan pula tunduk pada AI. Tunduklah pada kebenaran, adab, dan amanah," pungkas Ismail. ***(pp/aboe)

 

Kajian Jumat Subuh UBN NEWSROOM adalah forum jurnalis  yang diinisiasi oleh sejumlah wartawan Muslim dari berbagai media online, difasilitasi oleh Ustad Bachtiar Nasir. Forum ini terbuka bagi seluruh wartawan Muslim memperdalam isu-isu terbaru yang berkembang.  Setiap kali pertemuan, forum mendatangkan tokoh dan ahli yang di bidangnya. DR. Ismail Fahmi adalah tokoh pertama yang dihadirkan. Kegiatan juga disiarkan langsung melalui chanel AQL Center