Home Pendidikan Kemendikdasmen Ajak Penulis Perkaya Buku Bermutu untuk Anak

Kemendikdasmen Ajak Penulis Perkaya Buku Bermutu untuk Anak

Disampaikan Prof. Dr. Biyanto dalam \"Sajid Friday Morning Talk\"

8
0
SHARE
Kemendikdasmen Ajak Penulis Perkaya Buku Bermutu untuk Anak

Keterangan Gambar : Staf Ahli Bidang Regulasi dan Hubungan Antar Lembaga Kemendikdasmen, Prof. Dr. Biyanto, M.Ag. (kiri): foto sjd

Indonesia masih kekurangan buku-buku bermutu yang sesuai dengan kebutuhan anak

JAKARTA, eduksinews.com- Staf Ahli Bidang Regulasi dan Hubungan Antar Lembaga Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), Prof. Dr. Biyanto, M.Ag., mengajak masyarakat, termasuk para penulis, untuk memperkaya ekosistem literasi anak melalui penyediaan buku-buku berkualitas dan konten positif.

Hal itu disampaikannya dalam Sajid Friday Morning Talk yang diselenggarakan Serikat Jurnalis Muslim Indonesia (SAJID) di AQL Islamic Center, Jakarta, Jumat (17/7/2026). Diskusi dipandu Ketua Umum SAJID Bachtiar Nasir dan dihadiri jurnalis Muslim dari berbagai media.

Prof. Biyanto mengakui Indonesia masih kekurangan buku-buku bermutu yang sesuai dengan kebutuhan anak. Karena itu, melalui Pusat Perbukuan, Kemendikdasmen membuka peluang bagi para penulis untuk mengajukan karya mereka agar dikurasi dan, apabila memenuhi kriteria, dibeli pemerintah.

"Kita kekurangan buku-buku yang bagus. Kalau ada teman-teman yang punya hobi menulis, bukunya bisa ditawarkan ke kami. Nanti ada tim kurasi yang menilai. Kalau sesuai kebutuhan kami dan sesuai minat anak-anak, buku itu bisa kami beli lewat Pusat Perbukuan," ujarnya.

Menurut dia, langkah tersebut merupakan bagian dari upaya memperbanyak bahan bacaan yang mampu membangun imajinasi, karakter, dan kebiasaan positif pada anak.

Selain literasi membaca, Kemendikdasmen juga berupaya menghidupkan kembali lagu-lagu anak. Ia menyebut Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti telah menciptakan sejumlah lagu anak, seperti Hari Baru dan Rukun Sama Teman. Lagu Hari Baru diaransemen oleh musikus Dwiki Dharmawan dan digunakan dalam kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS).

Prof. Biyanto menilai lagu anak saat ini semakin minim sehingga anak-anak kehilangan alternatif hiburan yang sesuai dengan usia mereka.

Ia juga mengingatkan tantangan besar yang dihadapi generasi muda di era digital. Mengutip buku The Anxious Generation karya Jonathan Haidt, ia mengatakan anak-anak mengalami pergeseran dari play-based childhood menjadi phone-based childhood, yakni dari kebiasaan bermain di ruang nyata menuju kehidupan yang berpusat pada gawai.

Akibatnya, kata dia, aktivitas fisik anak berkurang sehingga memicu berbagai persoalan kesehatan, mulai dari obesitas hingga gangguan mata, pendengaran, dan gigi.

Karena itu, menurut Prof. Biyanto, solusi yang realistis bukan menjauhkan anak dari teknologi, melainkan menyediakan pilihan konten yang sehat dan edukatif.

"Menjauhkan mereka dari media tidak mungkin. Yang bisa kita lakukan adalah memberikan pilihan, baik berupa bacaan yang baik maupun konten-konten yang membangun karakter mereka, sehingga mereka bertumbuh menjadi generasi emas, bukan generasi cemas," katanya.

Ia menambahkan pemerintah telah menghadirkan platform Rumah Pendidikan sebagai salah satu ruang digital yang menyediakan layanan pendidikan dan diharapkan menjadi alternatif bagi masyarakat dalam mengakses konten pembelajaran yang positif.***(edu/IS/sp)