
Keterangan Gambar : Tim Riset MAN 2 Kudus - (kolase foto aboe)
Tim peneliti merekomendasikan pengembangan sistem insentif partisipatif berbasis digital
Kudus, edukasinews.com-Tim riset bidang humaniora dan ilmu sosial MAN 2 Kudus meraih medali emas Indonesian Student Research Competition (ISRC) 2026 melalui penelitian yang mengangkat isu implementasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Kompetisi ini berlangsung di Bandung, 17 - 19 April 2026. Ajang ini mempertemukan ratusan tim terbaik dari seluruh Indonesia. Dari lebih 700 pendaftar, tersaring menjadi hanya 20 sampai 25 tim per bidang, dan salah satunya adalah tim riset MAN 2 Kudus.
Tim MAN 2 Kudus terdiri atas Hanisa Cahya Z., Aqila Ditahayu, Nabeela Cikal Samara, dan Keisha Azalia Bellini B. di bawah bimbingan Muhammad Najih Irfani, S.T., M.Pd. Karya ilmiah mereka berjudul “Limbah Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai Indikator Implementasi Kebijakan: Analisis Partisipasi dan Perilaku Konsumsi Siswa”.
“Penelitian ini menyoroti fenomena limbah makanan dalam program MBG yang menjadi perhatian dalam aspek efisiensi anggaran dan efektivitas kebijakan publik. Dengan menggunakan pendekatan mixed method, tim peneliti menganalisis data dari 211 siswa serta melakukan wawancara dengan sejumlah pemangku kepentingan,” ujar Kepala MAN 2 Kudus, Ali Musyafak di Kudus, Kamis (23/4/2026).
Hasil penelitian ini, kata Ali Musyafak, menunjukkan bahwa tingkat partisipasi dan perilaku konsumsi siswa tergolong baik. Namun, kedua faktor tersebut tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap jumlah limbah makanan yang dihasilkan. Temuan ini mengindikasikan bahwa limbah MBG tidak semata disebabkan oleh perilaku siswa.
Sebaliknya, faktor operasional justru memiliki pengaruh lebih dominan, seperti kesesuaian menu dengan preferensi siswa, kualitas pengolahan makanan, serta sistem distribusi. Dengan demikian, limbah makanan dinilai lebih merefleksikan kinerja implementasi program daripada perilaku penerima manfaat.
“Tim peneliti juga menawarkan rekomendasi berupa pengembangan sistem insentif partisipatif berbasis digital. Sistem ini memungkinkan siswa memberikan umpan balik terhadap menu dan konsumsi makanan secara real-time, sehingga dapat menjadi dasar evaluasi dan perbaikan program secara berkelanjutan,” ujar Ali Musyafak.
Ali Musyafak mengapresiasi prestasi siswanya. Menurutnya, capaian ini menunjukkan kualitas pembelajaran berbasis riset di madrasah.
“Prestasi ini menunjukkan bahwa siswa tidak hanya mampu bersaing secara akademik, tetapi juga memiliki kepekaan terhadap persoalan publik serta mampu menghadirkan solusi berbasis penelitian. Ini menjadi bagian dari komitmen kami dalam membangun budaya riset di madrasah,” ujarnya Ali Musyafak.
Keberhasilan ini sekaligus memperkuat posisi MAN 2 Kudus sebagai madrasah yang aktif mendorong inovasi dan penelitian di kalangan siswa. Diharapkan, hasil riset tersebut dapat menjadi referensi bagi pemangku kebijakan dalam meningkatkan kualitas pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis di Indonesia.***(edu/IL/kmg)








LEAVE A REPLY